Simulasi Perhitungan PPh Final Pajak UKMUMKM

Ilustrasi Wajib Pajak PPh FinalSalah satu alasan wajib pajak enggan membayar pajak adalah persepsi rumitnya kewajiban perpajakan, begitu pula bagi para pelaku UKM. Hal ini lah yang melatarbelakangi diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 (PP 46/2013) tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu di bawah Rp 4,8 miliar setahun. Berdasarkan peraturan tersebut, wajib pajak UKM dikenakan tarif PPh Final 1%.

Lebih jauh, peredaran bruto yang dimaksud dalam peraturan tersebut adalah omzet. Peraturan ini adalah inti dari Pajak UKM karena memberikan solusi bagi pelaku UKM berupa kemudahan dan kesederhanaan dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Penghitungan pajak yang berdasarkan omzet dimaksudkan agar pelaku UKM dapat mudah menghitung pajak yang harus dibayarkan tanpa keharusan atas pembukuan yang lengkap.

Sebagai contoh, Ibu Olivia adalah seorang merchant yang menjajakan batik dengan berdagang secara online di marketplace. Usahanya sudah berlangsung selama tiga tahun dengan omzet setahun terakhir Rp 160 juta. Rinciannya adalah sebagai berikut:

Januari 15.000.000 Juli 10.000.000
Februari 11.000.000 Agustus   8.000.000
Maret 13.000.000 September 15.000.000
April 16.000.000 Oktober 13.000.000
Mei 15.000.000 November 17.000.000
Juni 11.000.000 Desember 16.000.000

Total omzet usaha Ibu Olivia selama setahun adalah Rp 160 juta. Jadi, Pajak UKM PPh Final Ibu Olivia untuk Januari sebesar:

1% x Rp 15 juta = Rp 150 ribu

Pajak penghasilan pada Februari adalah

1% x Rp 11 juta = Rp 110 ribu

Demikian seterusnya. Omzet per bulan dikalikan 1%. Total pajaknya selama setahun adalah Rp 1,6 juta.

Seperti diketahui, PPh Final merupakan istilah atau nama lain dari PPh Pasal 4 ayat 2. Ada berbagai macam objek PPh Final, seperti untuk sewa bangunan, jasa konstruksi, pajak atas obligasi, pajak atas peredaran bruto (omzet) usaha.

Berdasarkan penghitungan di atas, semua transaksi penjualan Anda per bulan harus dijumlahkan terlebih dahulu, kemudian dikalikan 1%. Pada tanggal 15 setiap bulannya, Anda harus membayarnya ke kas negara. Setelah membayarnya, Anda akan mendapatkan bukti bayar pajak atau Nomor Tanda Penerimaan Negara (Bukti Pembayaran/NTPN).

Cara Mudah Hitung dan Setor PPh Final 1%

Di aplikasi DJP Online, Anda dapat menghitung otomatis dan setor PPh Final 1% dengan mudah, 1 klik saja. Tak perlu lagi datang ke bank untuk antre buat ID billing dan bayar pajak. Bagaimana caranya? Ini langkah-langkah mudahnya:

  • Daftar atau Masuk Aplikasi PPh Final 1%. Daftarkan akun Anda atau kalau sudah, pilih dan masuk ke aplikasi PPh Final 1% DJP Online.
  • Buat Faktur Penjualan. Buat faktur penjualan dengan mudah. Masukkan nama barang penjualan, jumlah dan harganya. DJP Online akan menghitung pajaknya secara otomatis.
  • Setor PPh Final 1% Selanjutnya, klik "Setor Pajak". Anda akan terhubung sistem Cash Management DJP Online untuk bayar pajak online dan buat e-billing pajak sekaligus. Pastikan Anda sudah menambah saldo (top up) di sistem Cash Management DJP Online.
  • Dapatkan NTPN. Dapatkan NTPN dan status setor pajak Anda berubah menjadi "Lunas".

kesimpulan

  1. PPh Final 1% Wajib dibayarkan bagi wajib pajak individu dan badan yang memiliki omzet di bawah Rp 4,8 miliar setahun.
  2. PP 46/2013 disusun agar pelaku UKM dapat dengan mudah menghitung pajak tanpa keharusan atas pembukuan yang lengkap.
  3. Penghitungannya, semua transaksi penjualan per bulan dijumlahkan kemudian dikalikan 1%.
  4. PPh Final UKM dilaporkan hanya sekali setiap tahunnya lewat SPT PPh Tahunan orang pribadi atau badan.
  5. Anda dapat menghitung otomatis dan setor PPh Final 1% dengan mudah melalui aplikasi DJP Online secara gratis.

PERINGATAN!!!
Jangan menuliskan nomor NPWP Anda pada kolom komentar. Gunakan bahasa yang sopan untuk bertanya terkait dengan kartu NPWP Anda. Terima Kasih
EmoticonEmoticon